Sejarah sepatu Compass dimulai di Bandung pada 1998 ketika Kahar Gunawan mendirikan Compass sebagai brand footwear Indonesia. Perjalanan ini tidak muncul dari nol karena Kahar melanjutkan legacy ayahnya, Kahar Setiadi, yang lebih dulu mendirikan perusahaan manufaktur sepatu pada 1984.
Compass kemudian tumbuh dari brand lokal dengan akar produksi footwear menjadi label yang kuat pada desain, craftsmanship, komunitas, dan storytelling. Momentum modernnya semakin terlihat setelah rebranding pada 2018, lalu Gazelle kembali menjadi siluet penting yang membantu menghidupkan Compass di generasi baru pada 2019.
Hari ini Compass tidak hanya dikenal lewat Gazelle. Current collection mencakup Retrograde, Velocity, Tribune, Research & Destroy, Legasi, Slip On, Gazelle Spin, Gazelle Moc, hingga berbagai proyek kolaborasi.
Akar keluarga sebelum Compass lahir
Cerita Compass berhubungan erat dengan pengalaman keluarga Kahar Gunawan di industri sepatu Bandung. Menurut halaman resmi Compass, ayahnya mendirikan perusahaan manufaktur sepatu pada 1984.
Kahar tidak ingin sekadar meneruskan sebuah pabrik. Visi yang dibawa adalah membangun footwear brand yang memiliki kualitas dan desain kuat serta mampu membuat pemakainya merasa bangga.
Logo Gazelle sudah ada sebelum Compass
Compass menjelaskan bahwa logo Gazelle dibuat Kahar Setiadi pada 1983. Inspirasi logonya berasal dari gazelle, hewan yang dikenal cepat dan lincah.
Logo tersebut kemudian tetap hidup sebagai bagian dari DNA Compass. Jadi, simbol Gazelle bukan elemen yang baru diciptakan ketika Compass populer kembali pada akhir 2010-an.
Legacy produksi menjadi fondasi
Pengalaman keluarga dalam manufaktur memberi Compass dasar yang berbeda dari brand yang lahir murni sebagai label fashion. Craftsmanship, kualitas produksi, dan kemampuan mengembangkan sepatu secara lokal menjadi bagian penting dari cerita brand sejak awal.
1998: Compass resmi didirikan
Compass secara resmi menyebut dirinya didirikan pada 1998 di Bandung oleh Kahar Gunawan. Tahun ini menjadi titik utama dalam sepatu Compass sejarah karena brand mulai berdiri dengan identitasnya sendiri.
Visi Kahar Gunawan
Kahar ingin membangun brand footwear yang unggul dalam desain dan kualitas. Tujuannya juga lebih emosional, yaitu menghadirkan rasa bangga kepada orang yang mengenakan produk buatan Indonesia.
Bandung sebagai tempat kelahiran
Compass tumbuh dari Bandung, kota yang memiliki sejarah kuat dalam fashion, musik, desain, dan kultur kreatif. Lingkungan ini kemudian relevan ketika Compass menempatkan komunitas serta kolaborasi kreatif sebagai bagian identitas brand.
Gazelle sebagai siluet yang mengawali perjalanan
Gazelle memiliki posisi khusus dalam sejarah Compass. Current official product page menyebut Gazelle sebagai siluet ikonik Compass yang mengawali segalanya dan pertama kali diluncurkan pada 1998.
Konstruksi current Gazelle Low menggunakan canvas upper, cotton laces, rubber foxing dan outsole, serta proses vulkanisasi. Versi Gazelle Hi mempertahankan DNA yang sama dalam bentuk high cut.
Nama Gazelle terhubung dengan logo
Nama Gazelle selaras dengan logo yang telah dibuat Kahar Setiadi sejak 1983. Hubungan antara simbol, nama siluet, dan sejarah keluarga membantu membuat Gazelle lebih dari sekadar basic canvas sneaker.
Vulkanisasi menjadi bagian identitas klasik
Gazelle menggunakan vulcanized construction dengan rubber foxing dan outsole. Konstruksi ini menghasilkan visual sneaker klasik yang terus diinterpretasikan ulang melalui warna dan kolaborasi.
Masa sebelum kebangkitan modern
Compass telah berdiri sejak 1998, tetapi popularitas besarnya pada generasi sneaker modern tidak terjadi secara instan. Brand perlu menyesuaikan desain, komunikasi, dan cara membangun hubungan dengan konsumen ketika kultur sneaker lokal berubah cepat pada akhir 2010-an.
Pasar sneaker lokal mulai berkembang
Sepatu lokal sudah ada jauh sebelum media sosial, tetapi pertengahan hingga akhir 2010-an membawa momentum baru melalui event sneaker, e-commerce, Instagram, dan gerakan local pride. Compass berada pada posisi yang tepat untuk menghubungkan warisan lama dengan selera generasi baru.
Rebranding Compass pada 2018
Compass secara resmi menyebut melakukan rebranding pada 2018. Momentum ini penting karena arah brand mulai semakin fokus pada desain, storytelling, komunitas, dan visual identity yang lebih kuat.
Peran Aji Handoko Purbo
Halaman Our Story Compass menempatkan Aji Handoko Purbo sebagai Creative Director dan salah satu kekuatan utama di balik perkembangan brand. Compass menyebut kontribusinya membantu menjadikan label ini salah satu cult brand penting dalam kultur anak muda Indonesia.
Dari produk ke cerita
Rebranding tidak hanya mengubah tampilan sepatu. Compass mulai memperkuat cara setiap produk membawa narasi tentang kultur, komunitas, kolaborator, dan identitas lokal.
2019: Gazelle menghidupkan kembali Compass
Compass sendiri menyebut bahwa pada 2019 Gazelle menjadi pasangan yang menghidupkan kembali brand. Ini membantu membedakan dua hal: Gazelle pertama kali diluncurkan pada 1998, tetapi family tersebut mendapat peran baru dalam revival modern dua dekade kemudian.
Gazelle menjadi pintu masuk generasi baru
Siluet sederhana membuat Gazelle mudah diterima pengguna yang menyukai classic vulcanized sneakers. Ketika dipadukan dengan storytelling dan scarcity pada beberapa rilisan, Compass mulai membangun daya tarik yang lebih besar.
Popularitas dan antrean
Periode kebangkitan Compass juga dikenal dengan antrean panjang pada berbagai event sneaker dan rilisan terbatas. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana brand lokal mulai memiliki fanbase yang memperlakukan produk tertentu sebagai collectible item.
Kolaborasi menjadi bagian perkembangan Compass
Setelah revival, Compass semakin aktif menggunakan kolaborasi sebagai medium storytelling. Official collaboration archive menunjukkan proyek dengan musisi, seniman, brand fashion, desainer grafis, serta partner internasional.
Kelompok Penerbang Roket
Pada 2020, Compass berkolaborasi dengan Kelompok Penerbang Roket. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana Compass memanfaatkan kultur musik sebagai bagian dari ekosistem brand.
Tame Impala
Compass bekerja dengan Tame Impala dalam ARTIFICIAL VIBRATION yang resmi dirilis pada 29 Desember 2021. Compass menyebut proyek tersebut sebagai kolaborasi sepatu pertama Tame Impala.
Boy Pablo
Compass juga mengembangkan proyek bersama Boy Pablo melalui Retrograde Soundsystem. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa storytelling Compass aktif masuk ke musik dan subkultur.
Compass mulai menembus kolaborasi internasional
Langkah internasional terlihat semakin jelas ketika Compass bekerja dengan partner di luar Indonesia. Pada 2023, Compass berkolaborasi dengan NEIGHBORHOOD dari Jepang pada siluet Velocity.
NEIGHBORHOOD
Kolaborasi Velocity Compass / NEIGHBORHOOD menjadi milestone penting karena mempertemukan brand Indonesia dengan salah satu nama streetwear Jepang yang lama dikenal. Compass menempatkan proyek ini sebagai bagian perjalanan setelah rebranding 2018.
Fxxking Rabbits dan partner lain
Compass juga pernah bekerja dengan Fxxking Rabbits dari Jepang. Kolaborasi internasional memperluas konteks Compass dari brand lokal menuju label yang mampu berinteraksi dengan kultur streetwear regional dan global.
Budaya Indonesia tetap menjadi bagian utama

Meskipun berkolaborasi secara global, Compass tetap membawa proyek yang berakar pada budaya Indonesia. Salah satunya adalah kerja sama dengan Iwan Tirta Private Collection yang membawa motif batik ke dalam proyek Destroy Luxury.
Iwan Tirta Private Collection
Kolaborasi ini menggunakan siluet Velocity dan menggabungkannya dengan motif Kupu Simbar serta pendekatan visual yang terhubung dengan batik Megamendung. Proyek tersebut menunjukkan bahwa modern sneaker dapat menjadi medium untuk membawa kembali kerajinan dan simbol budaya Indonesia.
Komunitas kreatif
Compass juga bekerja dengan Darahkubiru, 3.4.7, ADGI, Darbotz, dan berbagai nama lain. Pendekatan tersebut memperkuat posisi Compass sebagai platform kreatif, bukan hanya perusahaan sneakers.
Perayaan 25 tahun dan arsip brand
Compass merayakan perjalanan seperempat abad melalui proyek yang kembali membuka arsip visual dan sejarah brand. Kolaborasi dengan ADGI menjadi bagian dari cara Compass menafsirkan ulang grafis, desain, dan perjalanan 25 tahun.
Perayaan semacam ini penting karena sejarah Compass tidak hanya disimpan sebagai timeline perusahaan. Arsip lama justru dipakai sebagai material kreatif untuk menjelaskan hubungan antara desain masa lalu, identitas lokal, dan produk generasi berikutnya.
Arsip menjadi bahan untuk produk baru
Compass tidak memperlakukan arsip hanya sebagai nostalgia. Elemen masa lalu digunakan kembali untuk membangun silhouette, graphics, campaign, dan cerita baru.
Koleksi Compass terus berkembang
Current Compass tidak berhenti pada Gazelle. Website resmi saat ini menampilkan collection seperti Velocity, Slip On, Research & Destroy, Retrograde, Gazelle, Tribune, Legasi, Gazelle Spin, Gazelle Moc, dan Retrograde Zip.
Perluasan ini penting karena sebuah brand yang hidup hampir tiga dekade tidak dapat bergantung pada nostalgia satu model. Compass terus membangun family baru sambil menjaga hubungan visual dan cerita dengan arsipnya.
Retrograde
Retrograde membawa silhouette yang berbeda dari Gazelle tetapi tetap berada dalam bahasa desain casual sneaker. Family ini juga sering menjadi medium kolaborasi dan storytelling.
Velocity dan Tribune
Velocity bergerak ke arah desain yang lebih eksperimental dan modern, sedangkan Tribune membangun identitas sendiri. Bertambahnya family memperlihatkan bahwa Compass tidak ingin bergantung pada satu hero product.
2025: NFC dan MyCOMPASS
Pertumbuhan popularitas juga membawa masalah produk palsu. Mulai April 2025, Compass menyatakan seluruh sepatu barunya dilengkapi NFC di bagian lidah sepatu dan dapat diverifikasi melalui aplikasi MyCOMPASS.
Menghadapi produk tiruan
Compass menjelaskan bahwa sejak 2019 mereka melihat model ikoniknya semakin banyak ditiru dan dijual melalui platform e-commerce. Teknologi NFC menjadi langkah untuk memberi konsumen cara memverifikasi keaslian.
NFC menjadi bagian dari cerita produk
Melalui MyCOMPASS, pengguna tidak hanya memeriksa authenticity. Aplikasi juga dapat menampilkan informasi mengenai konsep desain, material, dan pihak yang terlibat dalam pembuatan sepatu.
Compass pada 2026
Perjalanan Compass masih terus berkembang. Collaboration archive current pada 2026 menampilkan proyek bersama eye_C, REUDE, dan MANKIND.
Ini menunjukkan bahwa hampir tiga dekade setelah 1998, Compass masih menggunakan kolaborasi dan creative storytelling sebagai salah satu strategi utama.
Dari Bandung menuju jaringan kreatif lebih luas
Compass tetap membawa identitas Indonesia tetapi sekarang berinteraksi dengan partner dari berbagai negara dan disiplin kreatif. Perubahan ini memperluas cara Compass menerjemahkan craftsmanship dan cerita lokal ke konteks baru.
Kolaborasi internasional tidak otomatis membuat Compass meninggalkan pasar domestik. Justru positioning lokalnya tetap kuat melalui produksi Indonesia, penggunaan arsip brand, dan proyek yang membawa budaya, musik, serta komunitas Indonesia.
Cara merawat sepatu Compass
Banyak silhouette Compass seperti Gazelle menggunakan canvas upper, rubber foxing, rubber outsole, dan vulcanized construction. Untuk material seperti ini, dry brushing dapat dilakukan lebih dulu sebelum controlled cleaning melalui panduan cara mencuci sepatu kanvas.
Jangan samakan semua koleksi
Current collection Compass semakin luas sehingga material tiap model dapat berbeda. Sebelum cleaning, identifikasi upper, lining, foxing, outsole, serta finishing khusus pada pasangan yang dimiliki.
Jika sepatu Compass sudah kotor menyeluruh, Shoekoerin menyediakan Deep Clean Rp30.000 untuk area Tangerang Raya dengan free pickup-delivery dan pembayaran setelah pengerjaan.
Deep Clean membersihkan material sesuai kondisi, tetapi tidak mengembalikan outsole yang aus, canvas yang sobek, atau struktur yang rusak.
Ringkasan sejarah sepatu Compass
Compass didirikan Kahar Gunawan pada 1998 di Bandung dengan meneruskan legacy usaha sepatu ayahnya yang telah dimulai sejak 1984. Logo Gazelle bahkan sudah dibuat Kahar Setiadi pada 1983 dan tetap menjadi bagian identitas Compass sampai sekarang.
Gazelle pertama kali diluncurkan pada 1998. Dua dekade kemudian, Compass melakukan rebranding pada 2018 dan pada 2019 Gazelle kembali menjadi siluet yang membantu menghidupkan brand di tengah kebangkitan kultur sneaker lokal.
Setelah itu Compass berkembang melalui kolaborasi dengan musisi, seniman, komunitas kreatif, dan brand internasional. Current Compass kini memiliki banyak family seperti Gazelle, Retrograde, Velocity, Tribune, Research & Destroy, dan Legasi.
Perjalanan ini menunjukkan bagaimana brand lokal dapat tumbuh dari akar manufaktur keluarga menjadi platform footwear, craftsmanship, komunitas, dan storytelling yang terus berevolusi.







