Sejarah sepatu Tomkins tidak dimulai dari brand retail yang langsung berdiri sendiri. Akar ceritanya berada di PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk, perusahaan manufaktur alas kaki Indonesia yang sudah beroperasi sejak akhir 1980-an dan sebelumnya banyak memproduksi sepatu untuk pasar ekspor.
Perubahan besar terjadi pada 2002 ketika Reebok, yang saat itu menjadi buyer utama, merelokasi usahanya dan menghentikan order. Primarindo kemudian mulai merintis penjualan sepatu ke pasar domestik dengan merek sendiri, Tomkins.
Official timeline Primarindo mengunci 2003 sebagai tahun peluncuran Tomkins. Dari titik tersebut, brand berkembang kuat di kategori sepatu sekolah, casual, pria, wanita, dan anak, lalu memperluas produk ke desain yang lebih berwarna, sandal, tas, serta apparel.
1988: perusahaan di balik Tomkins berdiri
PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk didirikan pada 1988 dengan nama awal PT Bintang Kharisma. Perusahaan bergerak di industri alas kaki, khususnya produksi dan pemasaran sepatu sports dan casual untuk pasar lokal maupun internasional.
Awalnya berorientasi ekspor
Pada fase awal, produksi perusahaan ditujukan hampir seluruhnya untuk kebutuhan ekspor. Pengalaman sebagai manufacturer menjadi fondasi penting karena Tomkins nantinya lahir dari perusahaan yang sudah terbiasa dengan produksi footwear skala besar.
Bandung menjadi pusat produksi
Pabrik Primarindo berada di kawasan Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Lokasi produksi ini menjadi bagian penting dari sejarah Tomkins karena brand kemudian dikembangkan dari infrastruktur manufaktur yang sudah berjalan sebelum nama Tomkins muncul.
1994: menjadi perusahaan terbuka
Pada 1994, PT Bintang Kharisma mencatatkan dan menjual sahamnya di Bursa Efek Jakarta. Langkah ini mengubah status perusahaan menjadi perusahaan terbuka dan memberi akses lebih besar terhadap modal serta pengembangan kapasitas.
Kapasitas dan skala usaha berkembang
Masuk pasar modal membantu perusahaan memperkuat operasi manufaktur dan memperluas jaringan bisnis. Pada periode ini, fokus utama tetap berada pada produksi footwear untuk berbagai kebutuhan pasar.
1997: berubah menjadi PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk
Pada 1997, PT Bintang Kharisma Tbk mengganti nama menjadi PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. Perubahan nama ini terjadi sebelum Tomkins hadir sebagai brand lokal.
Sejarah perusahaan dan sejarah brand berbeda
Primarindo berdiri lebih dulu daripada Tomkins. Karena itu, 1988 adalah tahun berdirinya perusahaan, sedangkan sejarah Tomkins sebagai merek lokal baru mulai terbentuk setelah perubahan besar pada bisnis ekspor di awal 2000-an.
Reebok menjadi buyer utama sebelum Tomkins
Sebelum membangun merek sendiri, Primarindo memiliki pengalaman panjang memproduksi footwear untuk branded buyers internasional. Pada 2001, perusahaan bahkan berfokus pada satu buyer utama, yaitu Reebok.
Pengalaman produksi internasional
Hubungan dengan branded buyers memberi perusahaan pengalaman pada quality control, produksi massal, supply chain, dan standar manufaktur internasional. Kemampuan tersebut kemudian menjadi modal penting ketika perusahaan harus membangun brand sendiri untuk pasar Indonesia.
2002: order Reebok berhenti
Titik balik terbesar datang pada 2002 ketika Reebok International Limited melakukan relokasi usaha. Akibatnya, order yang sebelumnya menjadi sumber utama produksi berhenti.
Krisis berubah menjadi kesempatan
Hilangnya buyer utama memaksa Primarindo mencari model bisnis baru. Perusahaan kemudian mulai merintis penjualan sepatu di pasar domestik memakai merek milik sendiri, yaitu Tomkins.
2002 adalah fase perintisan
Dokumentasi korporat lama menyebut proses merintis penjualan Tomkins dimulai seiring berhentinya order ekspor pada 2002. Sementara itu, current official timeline memakai 2003 sebagai tahun launch brand. Dua informasi ini dapat dibaca berurutan, bukan saling bertentangan.
2003: Tomkins resmi diluncurkan
Official history Primarindo menempatkan 2003 sebagai milestone peluncuran Tomkins. Langkah ini mengubah perusahaan dari manufacturer yang bergantung pada order pihak lain menjadi produsen yang juga memiliki brand retail sendiri.
Fokus ke konsumen Indonesia
Tomkins dirancang untuk pasar domestik dengan produk yang stylish, durable, affordable, dan sesuai berbagai aktivitas. Brand kemudian memperkuat distribusi melalui toko sendiri maupun partner retail.
Dari manufacturer ke brand owner
Perubahan ini sangat penting dalam sejarah Primarindo. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan produksi untuk pihak lain, tetapi mulai membangun identitas, pemasaran, distribusi, dan hubungan konsumen melalui Tomkins.
Sepatu sekolah menjadi identitas paling kuat
Tomkins kemudian dikenal luas sebagai salah satu merek sepatu sekolah Indonesia. Dokumentasi perusahaan bahkan menyebut penjualan lokal Tomkins memiliki penekanan kuat pada jenis sepatu sekolah.
Dominan warna hitam
Sepatu sekolah Tomkins identik dengan warna hitam karena mengikuti kebutuhan seragam dan aturan sekolah. Current official marketplace masih menampilkan banyak model sekolah seperti Daveed, Lily, Crayon, Arcane, Thandel, dan berbagai School Edition.
Anak sampai remaja
Kategori sekolah memberi Tomkins akses ke pasar yang sangat luas karena digunakan oleh anak, remaja, dan keluarga. Brand tidak hanya menjual satu bentuk sepatu, tetapi mengembangkan lace-up, perekat, sneaker sporty, dan berbagai silhouette lain.
Tomkins juga berkembang ke casual
Walaupun sangat kuat sebagai sepatu sekolah, Tomkins tidak hanya memproduksi produk hitam untuk pelajar. Primarindo juga mendeskripsikan Tomkins sebagai brand yang mencakup sports shoes hingga casual wear.
Pria dan wanita
Katalog perusahaan lama sudah membagi Tomkins ke kategori anak, remaja, wanita, dan pria. Current official marketplace juga masih memperlihatkan footwear wanita, pria, serta produk unisex di luar kebutuhan sekolah murni.
Model lebih berwarna
Annual Report 2024 menjelaskan strategi diversifikasi melalui sepatu dengan harga lebih rendah dan desain yang lebih berwarna. Perubahan ini menunjukkan Tomkins mencoba keluar dari ketergantungan pada image sepatu sekolah hitam.
2010: puncak kapasitas produksi
Official company history menempatkan 2010 sebagai salah satu milestone produksi. Pada periode tersebut, Primarindo memproduksi rata-rata sekitar 3,7 juta pasang sepatu per tahun atau sekitar 308 ribu pasang per bulan.
Skala besar mendukung Tomkins
Kapasitas ini memperlihatkan seberapa besar infrastruktur manufaktur yang dimiliki perusahaan. Tomkins tumbuh bukan dari workshop kecil, tetapi dari perusahaan footwear dengan pengalaman produksi jutaan pasang.
Tidak seluruh produksi hanya Tomkins
Primarindo dalam berbagai periode juga menerima pesanan produksi untuk merek lain. Karena itu, angka produksi perusahaan tidak boleh otomatis dibaca sebagai seluruhnya penjualan Tomkins.
Hubungan Tomkins dengan produksi ekspor
Setelah kehilangan order Reebok, Primarindo sempat kembali menerima order export manufacturing dari brand lain seperti Lonsdale, Dunlop, dan Firetrap. Kegiatan tersebut berjalan berdampingan dengan produksi Tomkins untuk pasar domestik.
2018 dan 2019 menjadi fase perubahan lagi
Annual report menyebut sejak 2018 perusahaan sementara tidak menerima order sepatu ekspor dan fokus pada produksi domestik. Mulai 2019, perusahaan tidak lagi melakukan penjualan sepatu ekspor dan Tomkins semakin penting sebagai sumber utama bisnis footwear lokal.
Distribusi Tomkins makin luas
Current Primarindo menyebut Tomkins kini dijual di sekitar 385 toko di seluruh Indonesia. Angka ini menunjukkan transformasi dari brand lokal yang dirintis setelah kehilangan buyer ekspor menjadi jaringan retail nasional.
Department store dan toko retail
Tomkins tumbuh melalui akses yang luas ke berbagai channel penjualan. Untuk brand sepatu sekolah, distribusi menjadi sangat penting karena konsumen cenderung membutuhkan produk yang mudah ditemukan menjelang tahun ajaran baru.
E-commerce menjadi channel baru
Current Tomkins Official Shop juga aktif di marketplace. Digital channel membuat konsumen dapat membandingkan model, size, warna, dan harga tanpa hanya bergantung pada department store.
Tomkins pada 2024
Dua dekade setelah launch resmi, posisi Tomkins dapat dibaca lebih jelas melalui laporan keuangan perusahaan, bukan hanya dari nostalgia pengguna. Brand tetap menjadi tulang punggung bisnis domestik Primarindo meskipun skala produksi perusahaan sudah berubah dibanding periode puncak 2010.
Annual Report 2024 memberi gambaran terbaru mengenai posisi Tomkins dalam bisnis Primarindo. Pada tahun tersebut, perusahaan mencatat penjualan bersih Rp92,50 miliar, dengan sekitar Rp91,93 miliar berasal dari penjualan sepatu Tomkins.
Tomkins menjadi bisnis utama
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Tomkins menjadi bagian sangat dominan dalam pendapatan footwear perusahaan. Penjualan lain berasal dari sepatu khusus pesanan sejumlah instansi.
Kapasitas produksi berubah
Kapasitas produksi perusahaan pada 2024 berdasarkan jumlah tenaga kerja tercatat sekitar 65 ribu pasang per bulan. Angka ini jauh di bawah puncak 2010 dan menunjukkan perubahan skala operasi dari waktu ke waktu.
Diversifikasi produk Tomkins
Strategi perusahaan sekarang tidak hanya mempertahankan sepatu sekolah. Annual Report 2024 menyebut Tomkins memperluas portfolio melalui desain yang lebih berwarna, harga lebih rendah, serta kategori lain.
Sandal pria dan wanita
Primarindo sudah menjual sandal sebagai bagian dari perluasan produk. Kategori ini membuat brand menjangkau penggunaan yang lebih santai dibanding sepatu sekolah.
Tas dan kaos
Perusahaan juga menjual tas dan kaos. Langkah ini menunjukkan Tomkins bergerak perlahan dari footwear-only brand menuju lifestyle product yang lebih beragam.
Model Tomkins current
Current Tomkins Official Shop masih menunjukkan kuatnya kategori sekolah. Model seperti Daveed, Crayon, Lily, Arcane, Thandel, Prodigy Beta, Soho Charlie, Artemis, dan School Edition hadir dengan fungsi yang berbeda.
Daveed dan model sekolah
Daveed menjadi contoh current model yang dipasarkan untuk anak dan remaja. Varian hitam atau hitam-putih membuatnya sesuai dengan kebutuhan sekolah dan casual.
Lily dan Crayon
Lily dan Crayon memperlihatkan bahwa kategori sekolah Tomkins juga dikembangkan untuk wanita. Desainnya lebih lifestyle-oriented daripada bentuk sepatu sekolah klasik yang sangat formal.
Prodigy Beta dan Artemis
Prodigy Beta dan Artemis memperluas current assortment di luar satu model sekolah sederhana. Katalog seperti ini menunjukkan strategi diversifikasi masih berjalan sampai 2026.
Kenapa Tomkins bisa bertahan?

Tomkins juga memiliki keunggulan karena lahir dari perusahaan yang sudah memiliki pengalaman manufaktur jauh sebelum brand dibangun. Kombinasi kemampuan produksi, distribusi nasional, harga yang relatif terjangkau, dan familiarity di kategori sekolah membuat brand punya fondasi yang sulit dibangun secara instan oleh pemain baru.
Salah satu kekuatan Tomkins adalah hubungan langsung antara manufaktur dan brand. Primarindo memiliki pengalaman panjang di produksi footwear, sementara Tomkins memberi jalur langsung ke konsumen domestik.
Harga dan aksesibilitas
Tomkins membangun positioning melalui produk yang relatif mudah dijangkau. Untuk kategori sekolah, harga dan ketersediaan sering sama pentingnya dengan desain.
Brand familiarity
Lebih dari dua dekade berada di pasar domestik membuat Tomkins dikenal lintas generasi. Orang tua yang dulu memakai atau melihat Tomkins dapat kembali menemukan brand yang sama ketika membeli sepatu sekolah untuk anak.
Cara merawat sepatu Tomkins
Material Tomkins berbeda antar-model, sehingga cleaning tidak boleh hanya berdasarkan nama brand. Sepatu sekolah dapat memakai textile, mesh, synthetic leather, foam, rubber, atau kombinasi lain tergantung model.
Sepatu sekolah perlu rutin dibersihkan
Penggunaan hampir setiap hari membuat debu, keringat, dan noda cepat menumpuk. Panduan dasar dapat dilihat pada cara mencuci sepatu sekolah.
Synthetic leather dan mesh berbeda
Synthetic leather lebih aman dibersihkan dengan kelembapan terkontrol dan brush tidak terlalu keras. Mesh membutuhkan tekanan lebih ringan agar serat tidak tertarik. Untuk karakter materialnya, lihat sepatu bahan mesh.
Deep Clean untuk kotoran menyeluruh
Jika sepatu Tomkins sudah kotor pada upper, lining, insole, midsole, outsole, dan interior, Shoekoerin menyediakan Deep Clean Rp30.000 untuk Tangerang Raya dengan free pickup-delivery dan pembayaran setelah pengerjaan. Treatment mengikuti material aktual. Deep Clean tidak mengembalikan foam yang compressed, outsole aus, bonding struktural yang gagal, atau upper yang sobek.
Ringkasan sejarah sepatu Tomkins
Akar sejarah Tomkins dimulai dari PT Bintang Kharisma yang berdiri pada 1988 dan kemudian menjadi PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk pada 1997. Perusahaan awalnya fokus memproduksi sepatu olahraga untuk pasar ekspor. Pada 2002, Reebok sebagai buyer utama merelokasi usahanya dan menghentikan order, sehingga Primarindo mulai merintis brand sendiri untuk pasar domestik.
Official timeline kemudian mengunci 2003 sebagai tahun launch Tomkins. Brand berkembang kuat sebagai sepatu sekolah Indonesia sambil tetap memproduksi casual footwear untuk anak, remaja, wanita, dan pria.
Pada 2010, Primarindo mencapai produksi sekitar 3,7 juta pasang per tahun. Setelah aktivitas ekspor sepatu berhenti pada periode 2018 sampai 2019, Tomkins semakin menjadi pusat bisnis domestik perusahaan.
Pada 2024, sekitar Rp91,93 miliar dari total Rp92,50 miliar penjualan bersih Primarindo berasal dari Tomkins. Current company profile juga menyebut produk Tomkins dijual di sekitar 385 toko di seluruh Indonesia.
Saat ini Tomkins masih sangat kuat di kategori sekolah, tetapi strategi brand sudah melebar ke desain yang lebih berwarna, harga yang lebih beragam, sandal, tas, dan kaos. Perjalanan ini menunjukkan bagaimana kehilangan buyer ekspor pada 2002 justru menjadi titik lahir sebuah brand lokal yang bertahan lebih dari dua dekade.







